Air Mata Siumeng

Sepanjang hidupku ini tidak akan pernah aku lupakan, hingga ajal menjemputku aku akan tetap mengenangnya.

Begitu dekatnya aku dengan kerbauku sehingga akupun memberi nama untuk dua kerbauku, Siumeng dan SiLepe.  Silepe adalah mamanya si umeng. dan ada lagi adeknya 2 ekor namanya siliar-siliar (nakal). kenapa saya kasih nama itu dikarenakan dia sangat liar, tidak bisa disentuh sedikitpun. Akan tetapi ketika dia sudah menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya perubahan drastis terjadi dalam hidupnya. Semakin hari semakin baik dan semakin baik. Ternyata binatang sekalipun mempunyai perasaan loh..Kedua kerbauku ini luar biasa baiknya..gak neko-neko kata orang sekarang ini.  tidak percaya ikuti cerita ini.

Waktu masih duduk di Kelas 3 SD saya sudah mengangon (menggembalakan) kerbau-kerbau ini. saya sudah biasa memandikannya, mencarikan dia rumput dan menyalakan api, bakar ini dan itu adar dia terhindar dari nyamuk.

Ketika pulang angon, aku selalu naik di punggung dia, dan dia tau kalau kita mau nompang di badannya. kepalanya di tundukkan, kemudian kita injak tanduknya terus dia angkat sampai kita duduk manis seperti gambar ini.

Suatu waktu abangku yang pertama butuh uang kuliah dan kakak-kakaku juga butuh uang sekolah. dikampung halamanku tidak banyak yang dapat dikelola untuk menghasilkan uang. gaji pegawi negri seperti orang tuaku waktu itu mungkin sangat memprihatinkan. makanya bapak saya yang baik itu tidak pernah membuang waktunya ke lapo tuak untuk kongkow-kongkow dengan teman-temannya. Bapakku akan terus bekerja dan bekerja.

Karena tuntutan uang kuliah abangku akhirnya jatulah pilihan untuk menjual kerbau kesayanganku ini. Waktu itu usia saya 12 tahun duduk dikelas 6 SD. Setiap hari pekerjaan ku hanyalah menggembalakan kerbau tidak ada yang lain. Masih segar diingatanku waktu Aku masih dijalan aja pun Neneku sudah teriak-teriak ” embon..embon..hatop parmahan horbo tan nungnga male-male”. ucapan itu tidak asing lagi keluar dari mulut manis nenekku. setelah pulang sekolah jam 12 siang aku mengangon kerbauku di kebun kelapa sawit dan kadang disawah kalau habis panen.

Waktu itu jam menunjukkan jam 2.00 sore datanglah sebuah mobil truk yang sudah dipesan oleh bapaku untuk mengangkut kerbauku. Kerbauku yang masih terikat karena baru di angon tidak tau bahwa hari itu adalah “hari penjualan”nya.

Dengan sedikit basa basi antara agen kerbau dan orang tuaku , akhirnya aku melihat kerbau-kerbauku itu dipukuli dipaksa masuk kedalam truk dan disusun sampai 3 ekor.  Semuanya kerbauku itu tidak mau naik kedalam truk, akhirnya dengan dibantu beberapa warga kerbauku dipaksa masuk ke dalam truk tersebut.

 Induknya silepe, silepe sendiri dan satu lagi jantan adeknya si umeng itulah yang menjadi tumbal untuk uang kuliah abangku waktu itu. jujur waktu itu aku tidak kuat  melihatnya, saya hanya bisa menangis dan menangis. menangisi kerbau-kerbauku yang baik itu telah hilang dari pandanganku.

Silepe yang baik tidak mau naik kedalam truk dia terus melihat aku dan melihat si umeng.  Seakan dia berkata aku mau dikemanakan??

Silepe terus  menangis memanggil manggil “uuuuuuuuueeeeeeeeeeeegg…uegg..uuuuuuueeegggg…ueeggg. itulah tangisan kerbau kesanyangan saya itu sewaktu dia harus pergi meninggalkan aku dan si umeng. Aku tidak kuat melihatnya, aku terus menerus menangis dan menangis selama berhari-hari.

Malam harinya teman-teman saya semua kelas 6 SD datang untuk belajar kelompok. Waktu itu belajar matematika. Ada si Magdalena Sinaga, Pitta Uli Manurung, Rodia Tindaon, Adventus Rumah Horbo dan teman2 yang lain.

Waktu mereka serius belajar saya malah kepikiran denganan kerbau kesayanganku. Mereka menulis a, b , c  saya malah melukis bagaimana kerbauku itu dipaksa naik kedalam truk. Waktu aku melukis air mataku tidak bisa aku tahan dan aku menangis malam itu.Teman-temanku malah tertawain aku dengan seenaknya  mereka tidak tau penderitaanku malah mereka ngeledekin aku. Malam itu akhirnya tidak jadi belajar bersama, semua oleh karena aku.

Aku harus mengakui kepitaran mereka, ketekunan mereka untuk belajar, khususnya si Magdalena pintarnya untuk matematika luar biasa. Kalau si Surti mungkin dia lebih pintar di sejarah, dan itu terbawa sampai SMP. Kalau saya sendiri pintar hanya gibul …he..he..he.

Dikelas 6 SD kami sering disuru nyanyi oleh Guru. Semua kami puya talenta untuk bernyanyi. SiExaudi Simanjuntak  pernah menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Inang”.  Ketika dia bernyanyi semua guru-guru dan kami terdiam membisu,  disamping dia punya  suaranya yang tinggi kebetulan dia sudah tidak punya ibu lagi,  akhirnya suasana nyanyi itu menggambarkan dia yang sebenarnya. Itulah kenanganku bersama Exaudi Simanjuntak. Kakaknya juga tidak mau kalah, Eppida namanya. Sudah cantik rambutnya panjang, suaranya ngebas sempurna sebagai seorang wanita. :-)

Akhirnya tahun 1986 kami pelulusan dari SD, dari situlah kami berpisah satu dengan yang lain….

Dan sampai saat ini diusia kami yang sudah tidak mudah ini, kami tidak pernah bertemu satu sama lain..

Selamat berkarya teman2ku semua, semoga kita sukses bersama dalam mengarungi kehidupan ini.

10 thoughts on “Air Mata Siumeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s